Selamat Datang Di Blog REGGY GIFFARI ^-^ KEEP THE BLUE FLAG FLYING HIGH

Thursday, December 26, 2013

TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA



TINGKAT KEMISKINAN DI INDONESIA

Tingkat kemiskinan pada tahun ini diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan target pemerintah yakni sebesar 10,5 persen. Salah satu penyebabnya adalah shock akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di pekan ketiga Juni 2013.

"Nanti September BPS akan merilis survei.  Berapa jumlahnya, saya kurang tahu persis. Mungkin ada tambahan satu sampai dua persen (jumlah penduduk miskin)," ujar Anggota Komisi XI DPR RI Arif Budimanta, Ahad (18/8). 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin per Maret 2013 mencapai 28,07 juta atau 11,37 persen dari total penduduk Indonesia. Angka tersebut mengalami penurunan 0,52 juta dibandingkan dengan penduduk miskin per September 2012 sebesar 28,59 juta (11,66) persen. 

Beberapa faktor penyebab turunnya angka kemiskinan antara lain inflasi berdasarkan komponen umum secara kumulatif relatif rendah, upah harian nominal buruh tani dan bangunan yang meningkat serta stabilnya harga beras. 

Secara keseluruhan garis kemiskinan meningkat dari Rp 259.520 per kapita per bulan pada September 2012 menjadi Rp 271.626 per kapita per bulan pada Maret 2013. 
Selama periode September 2012-Maret 2013, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang 0,18 juta orang (dari 10,51 juta pada September 2012 menjadi 10,33 juta pada Maret 2013). 

Sedangkan di daerah pedesaan berkurang 0,35 juta (dari 18,09 juta pada September 2012 menjadi 17,74 juta pada Maret 2013). Berturut-turut, pada 2009, BPS mencatat jumlah penduduk miskin 32,53 juta atau 14,15 persen, kemudian pada 2010 31,02 juta atau 13,33 persen, Maret 2011 30,02 juta atau 12,49 persen, September 2011 29,89 juta atau 12,36 persen dan Maret 2012 29,13 juta atau 11,96 persen. 

Dengan tingginya inflasi beberapa bulan belakangan, Arif memperkirakan tingkat kemiskinan akan berada di atas 12 persen. Terkait target pemerintah yakni 10,5 persen, Arif menilai itu adalah batas atas di mana batas bawahnya adalah 8,0 persen. 

"Tanpa kerja apa-apa juga trennya memang seperti itu penurunan kemiskinannya. Jadi, tak ada extra effort yang dilakukan. Artinya apa? seluruh stimulus dari proses kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah selama ini tak memberikan efek elastisitas yang tinggi terhadap penurunan kemiskinan dari setiap proses pertumbuhan yang ada," kata Arif. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Salsiah Alisjahbana mengakui dengan tingkat kemiskinan per Maret 2013 yang mencapai 11,37 persen, target akhir tahun ini 10,5 persen memang berat untuk dicapai.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga sejumlah kebutuhan yang berujung pada tingkat inflasi tinggi.  "Tapi kita best effort," ujar Armida seraya menyebut terdapat sejumlah program seperti raskin, BLSM hingga BSM untuk membantu keluarga miskin.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menambahkan pemerintah telah melakukan sinergi antara Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) untuk mengurangi tingkat kemiskinan. 

MP3EI bertujuan mengurangi ketimpangan antarwilayah dan MP3KI mengurangi ketimpangan antar masyarakat. "Jadi disinergikan dan tentu ada efeknya," kata Hatta.

REFERENSI : http://www.republika.co.id

Dahsyatnya Media Sosial Di Indonesia



Dahsyatnya Media Sosial Di Indonesia


Media sosial memang memiliki dampak positif dan juga negatif. Tetapi tergantung orang yang menggunakan media sosial tersebut. Media sosial juga bisa berdampak negatif jika digunakan untuk menjelek-jelekan, memfitnah, membully orang lain, mengunggah gambar dan video yang tidak senonoh, dan lain sebagainya. 

Media sosial juga bisa berdampak positif jika penggunanya menggunakan untuk hal-hal yang positif, seperti memberikan informasi tentang kondisi lalu lintas terbaru, informasi cuaca, berita atau kejadian yang terjadi di suatu tempat, informasi pendidikan, acara menarik, dan lain sebagainya. Bahkan acara olahraga seperti sepak bola, balap motor dan mobil yang tidak bisa disaksikan di televisi bisa diikuti dengan membaca timeline teman di twitter atau update status di facebook. 

Baru-baru ini ada fenomena yang menakjubkan dari yang namanya media sosial. Seorang bocah berumur 8 tahun bernama “Alma Aini” yang hilang di Monas pun bisa ditemukan berkat informasi para pengguna media sosial di twitter dan facebook. Pesan berantai dari pengguna media sosial yang prihatin lalu tergerak hatinya membantu orang tuanya “Roy Julian” berbuah hasil dengan ditemukan anak tersebut dan kembali ke pangkuan orang tuanya. 

Begitu juga dengan media sosial lain seperti Instagram, ketika seorang Ibu negara berkata “bodoh” kepada pengguna instagram Erie Prasetyo dengan akun @erie_nya, yang notabenenya adalah rakyatnya sendiri, langsung ratusan komentar dan kritikan berdatangan dari pengguna instagram dan media sosial lainnya dari seluruh penjuru Indonesia dan dunia. 

Memang pengaruh media sosial di Indonesia sangat dahsyat, beberapa waktu yang lalu seorang ibu bernama “Prita” yang harus mendekam di jeruji besi dan meninggalkan bayinya yang masih kecil hanya gara-gara mengirim email keluhan kepada rumah sakit yang pernah digunakannya. Berkat dukungan para pengguna media sosial facebook melalui program “Coin For Prita” akhirnya Prita dapat dibebaskan dengan dana yang terkumpul hingga ratusan juta. 

Karena jumlah penggunannya yang mencapai puluhan juta di Indonesia, media sosial menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mendapatkan informasi atau berita terbaru selain media mainstream, menjadi media untuk memperkenalkan produk dan jasanya kepada orang lain, media untuk memperkenalkan diri, berkomunikasi dengan teman atau keluarga, dan masih banyak lagi lainnya. 

Oleh karena itu media sosial jangan dianggap sepele dan jangan pula menyepelekannya oleh siapa pun. Berkat media sosial sudah banyak orang yang bisa dibantu, banyak pula orang yang populer karena media sosial, dan bisa merasakan manisnya pundi-pundi rejeki dari media sosial sebagai buzzer atau pengiklan yang mampu mempengaruhi orang lain. 

Apalagi sekarang menjelang pemilu, banyak politikus yang memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat dengan biaya yang murah, dari pada membuat spanduk yang mahal dan rentan rusak dan diambil orang. Jadi gunakan media sosial dengan sebaik-baiknya yang bisa memberi manfaat tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. 

Referensi : http://www.didno76.com


30 Tahanan Polri Kabur Sepanjang 2013



30 Tahanan Polri Kabur Sepanjang 2013

Sepanjang tahun 2013 ada 30 tahanan Polri yang kabur dari 14 kantor polisi dan dua rumah sakit.
Sebagian besar atau 15 tahanan yang kabur terlibat kasus pencurian dan tahanan narkoba 10 orang. Selain itu ada dua polisi yang menjadi tahanan kabur dari sel tahanan polisi di tahun 2013 ini.

"Catatan Akhir Tahun 2013 Indonesia Police Watch (IPW) mengungkapkan, jumlah tahanan polisi yang kabur tahun 2013 ini menurun drastis jika dibandingkan tahun 2012. Sepertinya ada upaya maksimal dari Polri untuk memperbaiki sistem keamanan di sel tahanannya," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S. Pane dalam keterangannya, Kamis (26/12/2013).

Neta menyebut tahun 2012 ada 93 tahanan yg kabur dari 26 kantor polisi di seluruh Indonesia, mulai dari polsek, polres hingga sel tahanan polda. Sementara itu, tahun 2013 ini jumlah tahanan yang paling banyak kabur dari polsek.

"Ada 13 tahanan yang kabur dari 5 polsek. Lalu ada 12 tahanan yang kabur dari 7 polres dan ada 3 tahanan yang kabur dari sel tahanan Polda," imbuhnya.

Jawa Tengah sebagai daerah yang paling banyak tahannya yang kabur, yakni 7 tahanan yang kabur dari Polres dan Polresta.

Tahun 2012, posisi ini dipegang Polda Sumut, ada 37 tahanan yg kabur. Urutan kedua "dipegang" Polda Metro Jaya, yang ada 6 tahannya kabur dari polsek, polres dan rumah sakit. Bahkan tahanan yg hendak kabur dari Polres Jaksel tewas setelah terjatuh dari Lantai 4. Urutan selanjutnya Sulsel (4 tahanan kabur), Kepri (4), Sumut (4), dan Riau (3).

Pelarian yg paling mengejutkan di tahun 2013 dilakukan oleh Juneri Amrullah (27). Sepanjang 2013 Juneri sudah dua kali kabur dari tahanan Polisi, yakni 16 Juli 2013 kabur dari sel Polres Muaro Jambi dan 2 Desember 2013 kembali kabur dari sel Polsek Bukitraya, Riau.

Selain itu terdapat pula kasus unik dilakukan Eko Karmianto (30) yang kabur dari tahanan Polrestabes Semarang, dengan cara mengambil kunci sel dari di pinggang petugas yang tertidur.
"Sebagian besar tahanan bisa kabur dari sel akibat sikap teledor petugas kepolisian," tandasnya.

Referensi http://id.berita.yahoo.com/

NILAI RUPIAH MELEMAH



NILAI RUPIAH MELEMAH

Pelemahan nilai tukar rupiah tak kunjung berhenti sepanjang tahun ini. Per Selasa (20/8/2013), kurs tengah Bank Indonesia sudah melewati Rp 10.500 per dollar AS. Pasar dinilai tak melihat adanya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. 

"Pengendalian nilai tukar tak bisa hanya mengandalkan Bank Indonesia," tegas anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta, Selasa (20/8/2013). Menurut dia, kebijakan moneter tanpa ada perbaikan struktural di sektor fiskal, hanya akan membuat beban Bank Indonesia semakin berat yang terindikasi dari terus tergerusnya cadangan devisa. 

Cadangan devisa di Bank Indonesia terus tergerus seiring pelemahan rupiah sepanjang tahun ini. Setelah melonjak dan terakumulasi di atas 100 miliar dollar mulai 2011, cadangan devisa per 31 Juli 2013 tercatat 92,67 miliar dollar AS, dan masih terus turun. Angka per akhir Juli itu sudah turun lebih dari 20 miliar dollar AS dibandingkan posisi per 28 Desember 2012 di 112,78 miilar dollar AS, untuk operasi moneter.

Defisit neraca perdagangan

Salah satu indikasi tak tersinergikannya kebijakan fiskal dengan kebijakan moneter, adalah defisit neraca perdagangan yang terus memburuk. Pada kuartal kedua 2013, sebut dia, defisit neraca perdagangan membengkak menjadi 4,4 persen pendapatan domestik bruto, setelah pada kuartal pertama 2013 tercatat 2,4 persen. "Ini (defisit kuartal) terbesar dalam sejarah," ujar dia.
Menurut Arif, defisit neraca perdagangan terus berlangsung karena kebijakan fiskal pemerintah pada industri bahan baku atau hulu masih tak menarik. Sementara perlakuan terhadap eksportir pun tak mendorong gairah untuk memburu pemasukan dari devisa hasil ekspor.

Arif mengingatkan, rupiah mengalami pelemahan paling dalam di regional. "Kalau tidak ada perbaikan terhadap neraca perdagangan, pelemahan ini masih akan terus berlanjut," tegas dia.
Melorotnya nilai komoditas dan ekspor, serta terus meningkatnya nilai impor dari waktu ke waktu, ujar Arif, merupakan data riil yang menggambarkan kegagalan pemerintah. "Kegagalan menggenjot produktivitas nasional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri." Pada sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih saja bertumpu pada konsumsi.

Situasi hari-hari ini, imbuh Arif, telah memperlihatkan inflasi yang semestinya bersifat musiman menggelagat menjadi permanen bila pemeritnah tak segera berupaya melakukan pengendalian. Misal inflasi bahan pangan yang biasanya musiman, kini bisa terjadi di sembarang bulan, dan bahkan bukan sekali dipicu oleh kelangkaan bahan makanan selain beras. "Bila dibiarkan, kenaikan biaya hidup tak terhindarkan," tegas dia.

Langkah fundamental dan structural

Karenanya, Arif berpendapat perlu segera diambil langkah-langkah fundamental dan struktural. Pengendalian rupiah, ujar dia, tak semestinya dilakukan dengan mengerem pertumbuhan kredit yang bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi. "Yang harus dilaukan adalah pengaturan cash flow nasional," ujar dia.
Arif berpendapat Bank Indonesia perlu mempertimbangkan relaksasi ketentuan untuk melakukan pendalaman pasar valuta asing, untuk memikat aliran modal masuk (capital inflow). "Termasuk mengaktivasi instrumen FX swap sebagai fasilitas hedging untuk dana asing yang akan diinvestasikan di pasar rupiah domestik," sebut dia.

Namun di sisi lain, Arif menegaskan ekspor harus didorong dan impor harus sangat dikendalikan. Produksi nasional, mutlak harus didongkrak, termasuk produksi sektor pertanian, serta industri perkapalan dan sektor kelautan. "Agar impor pangan dan defisit neraca djasa bisa ditekan," tegas dia.

Kebijakan fiskal pemerintah harus disusun dalam kerangka mendorong ekspor. "Misalnya dengan menurunkan pajak ekspor dan promosi perdagangan agresif," sebut dia. Sebaliknya untuk mengendalikan impor, lanjut Arif, pajak impor harus dinaikkan dengan dimulai dari barang mewah. 

Selain itu, Arif mendesak adanya strategi pengembangan industri dan produksi nasional, terutama industri menengah dan kecil. "Penciptaan lapangan kerja, realisasi anggaran, serta implementasi program pedesaan, UMKM, dan sosial, perlu dipercepat" kata dia.

Wednesday, December 25, 2013

PDAM Targetkan Layanan Air Bersih 100 Persen



Seorang petugas mengisi air bersih ke dalam tangki truk PDAM Kota Bandung Tirtawening di Kantor PDAM Tirtawening Kota Bandung Unit Bisnis Tangki Pelayanan Air Minum, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin (1/4/2013). Unit Bisnis Tangki Pelayanan Air Minum PDAM Tirtawening Kota Bandung setiap hari memasok sekitar 300 ribu liter air bersih untuk kebutuhan perkantoran, permukiman dan tempat lainnya di Kota Bandung dengan harga, 1 tangki 5.000 liter untuk sosial Rp 45 ribu, rumahtangga Rp 81 ribu, niaga Rp 105 ribu. Sedangkan untuk 1 tangki 3.500 liter untuk sosial Rp 30 ribu, rumahtangga Rp 54 ribu dan niaga Rp 84 ribu. Tarif tersebut merupakan tarif lama dan hingga kemarin belum ada perubahan harga. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtamusi Palembang menargetkan cakupan layanan 100 persen dalam lima tahun ke depan. 

Untuk merealisasikan hal tersebut, PDAM tersebut sudah menyiapkan modal sebesar Rp 950 miliar yang berasal dari internal dan pinjaman perbankan. Dana sebesar Rp 605 miliar diambila dari kas internal, sedangkan pinjaman perbankan Rp 300 miliar.

Tamin Zakaria Amin, Ketua Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM), mengatakann cakupan layanan PDAM Palembang saat ini sudah mencapai 95 persen.

"Selain PDAM Tirtamusi yang memiliki cakupan layanan tinggi dan kondisi keuangan yang sehat, masih ada beberapa PDAM lainnya yang berkategori serupa," ujar Tamin, Rabu (25/12/2013)
Tamin mencontohkan, PDAM Banjarmasin yang cakupan layanannya sudah 98 persen. Beberapa PDAM lainnya adalah Kota Malang, Kota Surabaya, Kabupaten Bogor, Kabupaten Pemalang.

"PDAM Kota Malang bahkan menyatakan bahwa air bisa langsung diminum pelanggan karena sudah memenuhi kualitas air minum sesuai yang ditentukan Kementerian Kesehatan," ucap Tamin.

Melihat cerita sukses beberapa PDAM yang disebutkan, Tamin berkeyakinan cakupan layanan 100 persen dan kualitas air minum bukan hal mustahil untuk direalisasikan PDAM lainnya selama ada dukungan dari kepala daerah dan profesionalisme manajemen PDAM. Untuk mewujudkan hal tersebut, BPPSPAM pun siap membantu dengan rekomendasi program dan bantuan manajemen.

"PDAM kita memang masih banyak yang pengelolaannya menggunakan mindset birokrat. Ini yang harus kita rubah. Layanan air minum itu local service sehingga membutuhkan local inovation yang berorientasi kepada pelayanan pelanggan," katanya. 

  referensi : http://www.tribunnews.com