Selamat Datang Di Blog REGGY GIFFARI ^-^ KEEP THE BLUE FLAG FLYING HIGH

Saturday, October 19, 2013

KEBANGKITAN SEPAKBOLA INDONESIA DI TIMNAS U-19



SELAMA 22 tahun, sejak 1991, kita sebagai orang Indonesia selalu mengelus dada jika menyaksikan tim sepak bola nasional bertanding di level mana pun. Kali terakhir kita harus prihatin ketika timnas U-16 kalah adu tendangan penalti 2-3 dari Malaysia dalam laga final Piala AFF U-16 di Stadion Wunna Theikdi, Myanmar. Padahal, timnas U-16 sempat unggul pada menit ke-28 melalui Gatot Wahyudi. Malaysia bisa menyamakan skor 1-1 pada menit ke-88 sehingga untuk menentukan pemenangnya harus dilakukan adu tendangan penalti setelah melalui perpanjangan waktu 30 menit.

Namun, seiring dengan peringatan Hari Olahraga Nasional tiba-tiba menyeruak seberkas sinar yang menyilaukan di ufuk Nusantara. Pada 22 September, timnas U-19 mampu menjadi juara Piala AFF (ASEAN Football Federation) di Gelora Delta, Si­doarjo, setelah menang adu tendangan penalti 7 - 6 atas Vietnam. Kemenangan tersebut merupakan lonjakan besar bagi tim Garuda Jaya karena di babak penyisihan grup dikalahkan Vietnam 1- 2.

Keberhasilan menjadi juara itu merupakan pelepas dahaga yang sangat menggembirakan. Sebab, selama 22 tahun tidak ada tim dari negara kita yang bisa menjadi juara di laga resmi sejak merebut medali emas SEA Games Manila pada 1991.

Memang, timnas U-19 menjadi juara HKTA International Youth Football Invitation Tournament di Hongkong beberapa bulan lalu. Namun, itu bukan turnamen resmi.

Sukses timnas U-19 terus berlanjut. Tim Garuda Jaya menjadi juara grup G kualifikasi AFC U-19 dengan rekor sempurna (tiga kali menang dari tiga pertandingan). Salah satu tim yang dikalahkan adalah juara bertahan Korea Selatan yang pernah 12 kali menjuarai turnamen tersebut. Kemenangan atas Korsel itu benar-benar sensasional. Sebab, bertahun-tahun tidak ada tim Indonesia yang mampu mengalahkan Taeguk Warriors julukan Korsel.

Keberhasilan tim Garuda Jaya tidak bisa dilepaskan dari peran besar pelatih Indra Sjafri. Tidak sama dengan pelatih-pelatih yang lain, pelatih asal Sumbar itu memahami benar sports science. Hal itu dia terapkan ketika melatih tim U-19.

Laki-laki yang pernah menjadi kepala Kantor Pos Sumbar itu mampu membentuk mental para pemainnya menjadi sangat tangguh. Itu sudah terlihat ketika tim Garuda Jaya menghadapi Vietnam di final AFF U-19. Psikis pemain-pemain muda Indonesia saat ini benar-benar superior berkat polesan Indra Sjafri. Untuk menjaga kebugaran pemainnya, dia mengawasi menu makanan dan memerintah mereka untuk cukup beristirahat.

Satu hal lagi yang sukses dilakukan Indra Sjafri. Yakni, dia tidak segan-segan berkeliling daerah untuk terus mencari bibit pemain berbakat. Semua itu dia lakukan dengan biaya sendiri. Pelatih tersebut melihat sukses yang pernah dilakukan Tony Pogagnik (asal Yugoslavia) yang juga terus mencari pemain-pemain berbakat di daerah. Hasilnya, Indonesia mampu menahan juara Olimpiade 1956 Uni Soviet 0 - 0 di Melbourne, juara Merdeka Games 1961, dan merebut medali perunggu Asian Games III Tokyo 1958.

Indra Sjafri pernah bermain sepak bola. Namun, namanya tidak setenar Suhatman Iman. Apalagi jika dibandingkan dengan pemain legendaris PSP Padang Zulkifli Yasin (alm), yang pada 1963 bergabung dengan Persebaya. Zul panggilan akrab pemain tersebut sebagai pelatih pernah membawa Persebaya juara kompetisi PSSI dan membawa Suryanaga juara antar-klub nasional pada 1978. Namun, sebagai pelatih, Indra Sjafri ternyata lebih sukses jika dibandingkan dengan Suhatman maupun Zulkifli.

Satu hal lagi yang bisa membuat tim Garuda Jaya sukses, yakni para pemainnya mau belajar dari kekalahan. Pada 2012, sebagai inti tim pelajar Indonesia, mereka bertemu tim pelajar Korsel di Iran. Ketika itu, tim pelajar Indonesia kalah 1 - 2. Dengan belajar dari kekalahan tersebut, tim U-19, terutama pelatih Indra Sjafri, menerapkan strategi yang jitu sehingga berbuah kemenangan gemilang di SUGBK. Padahal, di tempat yang sama timnas pernah dipermalukan 1 - 4 oleh Korsel dalam laga pra Piala Dunia 1986 Zone Asia. Yang lebih menyakitkan lagi kala bertanding di Seoul, tim kita hanya kalah 2-0.

Di ajang U-19, Indonesia pernah dikalahkan Korsel 0 - 3 di kualifikasi Piala AFC 2008 pada 8 November 2007. Karena itu, kemenangan 3 - 2 itu benar- benar luar biasa meski diperoleh di SUGBK di bawah siraman hujan lebat. Semoga kemenangan tersebut merupakan awal kebangkitan sepak bola Indonesia. Sebab, jalan tim Garuda Jaya masih panjang karena harus tampil di Myanmar pada Oktober 2014. Dan, bukan tidak mungkin tim Garuda Jaya bertemu Korsel lagi. Sebab, timnas junior Negeri Ginseng itu juga lolos sebagai salah satu di antara enam tim peringkat kedua terbaik.

Untuk level sepak bola junior Asia (kini namanya turnamen U-19 AFC), Indonesia baru tampil 15 kali. Padahal, turnamen tersebut sudah diadakan 38 kali. Selama mengikuti turnamen tersebut baru sekali Indonesia menjadi juara. Itu pun juara bersama Burma (sekarang Myanmar) pada 1961.

Ketika itu, tim junior Indonesia ditangani oleh Djamiat Dalhar. Pelatih tersebut selama menjadi pemain dikenal sebagai salah seorang di antara trio penyerang Indonesia (bersama Tee San Liong, pemain Persebaya asal Jember, dan Ramang dari PSM Makassar).

Indonesia ditetapkan sebagai juara bersama dengan Burma karena di final bermain imbang 0 - 0. Ketika itu, belum ada peraturan adu tendangan penalti untuk menentukan pemenangnya jika laga final berkesudahan seri. Indonesia lolos ke final sebagai juara grup A, sedangkan Burma adalah juara grup B. Di penyisihan grup Indonesia tidak terkalahkan dalam empat pertandingan dengan prestasi dua kali menang (2 - 0 atas Vietnam dan 2 - 1 atas Jepang) serta dua kali seri (2 - 2 dengan Korsel dan 1 - 1 dengan Singapura).

Jadi, sudah 53 tahun Indonesia tidak pernah menjadi juara turnamen junior Asia. Karena itu, tim Garuda Jaya diharapkan bisa mengulang prestasi gemilang pada 1961 itu. Mengapa dikatakan prestasi gemilang? Sebab, pada tahun yang sama, tim senior Indonesia menjuarai Merdeka Games di Kuala Lumpur, Malaysia.

Friday, October 18, 2013

Masyarakat Ekonomi ASEAN

 “Satu Visi – Satu Identitas – Satu Komunitas” – menjadi visi dan komitmen bersama yang hendak diwujudkan oleh ASEAN pada tahun 2020. Tetapi mungkinkah cita-cita tersebut dapat dicapai oleh negara-negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailan, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar) dalam waktu kurang dari satu dasawarsa lagi. Berdasarkan catatan dan laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa cita-cita bersama yang terintegrasi dalam suatu komunitas yang disebut Masyarakat Asean (Asean Community) ini masih harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang terdapat pada masing-masing negara anggota.

Kesepakatan bersama untuk mengintegrasikan berbagai negara Asean (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Brunai Darussalam, Kamboja, Vietnam, Laos dan Myanmar) yang masing-masing memiliki latar-belakang sosial-budaya, ideologi politik, ekonomi dan kepentingan berbeda ke dalam suatu komunitas yang disebut Masyarakat Ekonomi Asean ini masih menghadapi sejumlah kendala besar, khususnya bagi Indonesia yang masih dihadapkan dengan berbagai masalah multi dimensi yang sarat kepentingan. 

Masyarakat Ekonomi Asean dengan sasarannya yang mengintegrasikan ekonomi regional Asia Tenggara menggambarkan karakteristik utama dalam bentuk pasar tunggal dan basis produksi, kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, kawasan pengembangan ekonomi yang merata atau seimbang, dan kawasan yang terintegrasi sepenuhnya menjadi ekonomi global. Sebagai pasar tunggal kawasan terpadu Asean dengan luas sekitar 4,47 juta km persegi yang didiami oleh lebih dari 600 juta jiwa dari 10 negara anggota ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan memacu daya saing ekonomi kawasan Asean yang diindikasikan melalui terjadinya arus bebas (free flow) : barang, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal.

Meski tercatat sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah ruah dengan luas dan populasi terbesar di antara negara-negara lainnya di Asean, Indonesia diperkirakan masih belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean pada tahun 2015. Pernyataan bernada skeptis atas kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Bidang Tenaga Kerja, Benny Soetrisno beberapa waktu lalu dalam Seminar Kesiapan Tenaga Kerja dalam Menghadapi Pasar Asean. 

Pernyataan tersebut adalah sangat beralasan mengingat bahwa masih ada sejumlah masalah mendasar yang menimpa Indonesia dan harus segera diatasi sebelum berlakunya Mayarakat Ekonomi Asean pada tahun 2015. Iklim investasi kurang kondusif yang diindikasikan melalui masalah ruwetnya birokrasi, infrastruktur, masalah kualitas sumber daya manusia dan ketenagakerjaan (perburuhan) serta korupsi merupakan sebagian dari masalah yang saat ini masih menyandera pemerintah Indonesia. 

Kendala-kendala tersebut di atas mengakibatkan Indonesia belum dapat mensejajarkan diri untuk “tegak sama tinggi dan duduk sama rendah” di antara negara-negara Asean lainnya. Kekhawatiran ini tercermin melalui pernyataan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan yang menyebutkan bahwa Indonesia masih harus mengerjakan banyak hal untuk mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean. Menteri ini juga mengakui bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara Asean yang masih memerlukan persiapan lebih banyak.

Kondisi serupa juga dialami oleh beberapa negara Asean lainnya. Myanmar, misalnya, juga menghadapi kendala yang tidak jauh berbeda. Bahkan para pengusaha Myanmar sendiri mengaku belum siap untuk bergabung dalam pasar Masyarakat Ekonomi Asean.

Kekhawatiran atas kesiapan semua negara anggota Asean untuk pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean juga terungkap melalui suvey yang dilakukan oleh Kamar Dagang Amerika di Singapura. Survey yang melibatkan 475 pengusaha senior Amerika tersebut mengungkapkan bahwa 52 persen responden tidak percaya Masyarakat Ekonomi Asean dapat diwujudkan pada tahun 2015.

Berangkat dari pertanyaan tersebut di atas, pemerintah dituntut untuk segera mempersiapkan langkah & strategi menghadapi ancaman hempasan gelombang tsunami ekonomi “Masyarakat Ekonomi Asean” dengan menyusun dan menata kembali kebijakan-kebijakan nasional yang diarahkan agar dapat lebih mendorong dan meningkatkan daya saing (competitiveness) sumber daya manusia dan industri di Indonesia. Taraf daya saing nasional ini perlu segera ditingkatkan mengingat bahwa berdasarkan Indeks Daya Saing Global 2010, tingkat daya saing Indonesia hanya berada pada posisi 75 atau jauh tertinggal dibanding Vietnam (posisi 53) yang baru merdeka dan baru bergabung ke dalam ASEAN.

Dengan kata lain, pemerintah harus segera memperkuat kebijakan & langkah-langkah yang pro-bisnis atau pro-job, bukan memperkuat kebijakan & langkah populis seperti yang terjadi belakangan ini yang diindikasikan dengan adanya kenaikan upah minimun regional (UMP/UMK) yang sangat drastis di beberapa daerah pada awal tahun 2013 ini. Jika tidak, Indonesia bisa dipastikan hanya akan menjadi pasar potensial bagi negara ASEAN lainnya, bukannya menjadi pemain utama di kawasan Asean. Indonesia disebut-sebut sebagai negara paling menarik bagi pengembangan usaha baru, yang kemudian disusul oleh Vietnam, Thailan dan Myanmar.

Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari para pembuat kebijakan hingga masyarakat umum sangatlah diperlukan untuk memastikan kesiapan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi pasar bebas yang disebut Masyarakat Ekonomi Asean ini. Berbagai diskusi atau seminar sudah dilakukan pemerintah dengan melibatkan para pakar dari berbagai lembaga pemerintah maupun non-pemerintah guna memastikan kesiapan masyarakat Indonesia menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015 yang menuntut efisiensi dan keunggulan produk yang lebih kompetitif dan inovatif. Meski Masyarakat Ekonomi Asean dipandang sebagai sebuah peluang positif bagi perkembangan ekonomi nasional, namun sejumlah tantangan dan hambatan klasik yang terus menghantui Indonesia dari waktu ke waktu mesti segera diatasi. Hambatan dan tantangan mendasar yang perlu dibenahi pemerintah saat ini, antara lain, mencakup masalah : infrastruktur, birokrasi, masalah kualitas sumber daya manusia dan masalah perburuhan, sinergi kebijakan nasional dan daerah, daya saing pengusaha nasional, korupsi dan pungutan liar yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi (high-cost economy). 

Dalam upaya mempersiapkan diri menghadapi perubahan dan sekaligus mengatasi hambatan & tatangan tersebut, Pemerintah harus segera merumuskan dan menetapkan langkah-langkah strategis terpadu dengan melibatkan seluruh komponen bangsa dan pemangku kepentingan (stakeholder). Di samping itu, pembaruan dan perubahan (changes) menjadi sebuah kata kunci yang mesti segera disosialisasikan dan diimplementasikan secara gradual atau bertahap mengingat kemajukan dan keanekaragaman kareakteristik kehidupan sosial dan ekonomi bangsa Indonesia

Akhirnya, seiring dengan semakin dekatnya tenggat waktu pembentukan Masyarakat Ekonomi Asean 2015, pemerintah juga harus semakin menggencarkan kegiatan sosialisasi Masyarakat Ekonomi Asean 2015 kepada seluruh masyarakat, termasuk jajaran birokrasi di daerah dengan maksud agar tidak terjadinya tumpang-tindih (overlapping) antara kebijakan nasional dengan kebijakan daerah yang selalu mendasarkan pengambilan keputusan berbasis otonomi daerah. (ID. NO. 13-04-01429)

Referensi :
1) http://www.asean.org
2) http://www.okezone.com
3) http://www.kompas.com
4) http:// www.detik.com/
5) http://www.republika.co.id
6) http://www.channelnewsasia.com
8) http://www.irrawaddy.org
9) http:// www.afp.com/


Monday, October 14, 2013

Dampak Ekonomi Diselenggarakannya Miss World


Dampak Ekonomi Diselenggarakannya Miss World
Miss World adalah kontes kecantikan internasional yang diprakarsai oleh Eric Morley pada tahun 1951 dan pertama kali diadakan di Inggris. Setelah kematiannya pada tahun 2000, Istri Morley, Julia Morley, menggantikannya sebagai ketua. Bersama rivalnya Miss Universe dan Miss Earth, kontes ini menjadi salah satu yang dikenal oleh masyarakat umum.
Miss World adalah wacana terkini yang menarik untuk dibicarakan. Menjelang dilaksanakannya event, setiap elemen masyarakat membincangkan perihal Miss World 2013.

Event ini tiba-tiba menjadi pembincangan sakral di berbagai lapisan masyarakat. Namun menjelang event ini digelar, muncul berbagai pro dan kontra dalam penyelenggaraannya.

Jika kita menyimak pembukaan perhelatan Miss World di televise beberapa waktu lalu, ada fenomena unik dan menarik sekaligus kagum ketika kita menyaksikan, ternyata pakaian adat yang kita punyai dari 33 provinsi itu sangat indah dipakai dengan aneka warna yang dikenakan oleh para kontestan Miss World 2013.  Secara tidak langsung, ada perasaan kagum dan terkesima pada bangsa sendiri yang ternyata memiliki keanekaragaman budaya yang dicerminkan melalui pakaian adatnya. Tentu saja hal ini menarik karena perempuan-perempuan dari negara lain dengan ”sukarela” mau mengenakan pakaian tersebut ketika ajang ini diselenggarakan di Indonesia. Rasa nasionalisme semakin meningkat ketika kita, bangga, dan menghargai apa yang kita punyai.

Pemerintah pun mengklaim adanya dampak positif bagi Indonesia sebagai tuan rumah Miss World 2013. Penyelenggaraan Miss World akan mempromosikan budaya dan objek wisata Indonesia ke dunia Internasional. Kekayaan alam dan budaya kita akan diperkenalkan. Dan dengan adanya kehadiran jurnalis mancanegara yang meliput Indonesia diharapkan dapat memunculkan rasa penasaran bagi turis internasional untuk mengunjungi Indonesia. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap promosi pariwisata dan perekonomian Indonesia. 

Dalam perspektif feminis, Miss World merupakan salah satu wadah bagi perempuan sebagai pihak yang selama ini mengalami subordinasi dari kaum-kaum superordinat yang masih menganggap perempuan merupakan pihak yang posisinya berada pada level tertindas. Pada ajang ini, kaum perempuan diberikan kesempatan untuk menampilkan artikulasinya.

Dengan ajang ini, perempuan yang berasal dari aneka ragam negara dan budaya dapat mengaspirasikan suaranya untuk memperjuangkan perubahan sosial dan budaya di masyarakat yang masih memandang perempuan sebagai ”hal yang sepele”. Hal yang perlu menjadi titik pandang adalah langkah awal kita memperkenalkan kepada dunia bisa dilakukan melalui simbolisasi dengan memperkenalkan tatanan budaya yang ada di Indonesia.

Dalam teori komunikasi, kita mengenal teori interaksi simbolik. Teori ini menekankan bahwa interaksi manusia dalam pergaulan bisa dilakukan melalui sebuah presentasi diri melalui simbol-simbol yang akan mencirikan simbol tersebut menjadi sebuah ciri untuk membina hubungan dengan manusia lainnya. Dalam konteks Miss World, penunjukan symbol-simbol kepada dunia tentang Indonesia coba diusung oleh penyelenggara dalam memberikan gambaran tentang Indonesia yang lebih utuh.

Kesempatan untuk mempresentasikan diri kepada dunia tentang siapa diri kita melalui ajang Miss World merupakan upaya yang patut diapresiasi, sepanjang ajang ini tetap menghargai budaya yang ada di Indonesia. Pertimbangan kearifan lokal tentu saja dikedepankan faktor ciri khas perempuan Indonesia tak bisa di pudarkan hanya karena citra Miss World yang selama ini negatif.

Jika dikaji secara mendalam, tampaknya event ini bukan sekadar event untuk mempertontonkan diri kaum perempuan secara fisik, tapi perempuan justru diangkat secara utuh dalam arti perempuan yang ikut terlibat adalah mereka-mereka yang terpilih secara fisik dan intelektual. Mereka di uji kepekaan sosialnya, diasah pemikiran intelektualnya, dan digali potensi keterampilannya.

Oleh karena itu, kita tidak bisa melihat masalah ini hanya dari satu sisi secara sempit. Tapi kita harus melihat dalam konteks luas. Namun, tentu saja penyelenggaraan ini harus mengedepankan norma-norma yang berlaku di negara kita sebagai penyelenggara pada tahun ini. Sebagai tuan rumah yang baik, Indonesia harus tetap menghargai kehadiran ”tamu-tamu” asing yang justru antusias memberi kesempatan kepada bangsa ini untuk menunjukkan diri sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan alam yang memesona.

Bidang Usaha yang Prospektif Saat Ini

Bidang Usaha yang Prospektif Saat Ini 

Memiliki usaha yang dapat dikembangkan sejak usia muda dapat menjadi hal yang menguntungkan di masa depan. Dimasa ini, banyak mahasiswa yang telah sukses merintis usaha sejak duduk dibangku kuliah. Dengan usia yang mudah dan kuantitas waktu luang yang tersedia sebagai mahasiswa, memulai suatu usaha ydengan serius dan tanggung jawab tentunya akan bisa menjadi perluang usaha yang potensial untuk mendapat penghasilan tambahan guna membayar uang kuliah dan memenuhi kebutuhan lainnya. 

Berikut ada beberapa peluang bisnis yang cocok untuk mahasiswa:

Membuat Kerajinan
Membuat kerajinan hasilnya tentu bisa dijual, minimal pada teman-teman kuliah. Apalagi banyak mahasiswi modis dan gaul yang suka banget pake pernak-pernik unik dan cantik. Nah, kalau kamu suka banget bikin aksesori, atau kerajinan tangan lainnya, manfaatkanlah hobi ini untuk mendapatkan keuntungan daripada hanya menjadi pajangan kamar. Selain bisa menghabiskan waktu kosong yang membosankan, kamu juga bisa menambah uang saku.

NgeMC
Kamu yang supel dan suka banget ngobrol serta berinteraksi dengan orang banyak, pasti sering jadi MC di beberapa acara kampus. Nah, hobi ini sangat menguntungkan buat kamu. Selain bisa lebih dikenal oleh banyak orang, mudah menambah link, kamu bisa mencoba jadi MC pada beberapa event yang bisa menguntungkan kamu dari segi materi. Kalau di event kampus, kamu biasa jadi MC gratisan di organisasi kamu, atau sekedar bantu temen, nah kini saatnya untuk menaikan daya jual. Coba cari beberapa event luar kampus yang emang bisa membayar kamu. Meskipun awalnya gak gede, tapi pastinya sedikit demi sedikit bayaran kamu bisa bertambah.

Menulis
Jangan sepelekan hobi menulismu, baik fiksi ataupun non fiksi. Bayaran menulis artikel di surat kabar itu lumayan loh buat kantong mahasiswa. Apalagi jika kamu suka mengirimkan tulisan non fiksi di beberapa majalah. Bisa-bisa ada penerbit yang mau menjadikannya buku. Nah, buat kamu yang suka menulis artikel di suratkabar, nantinya bisa dijadikan referensi untuk mencari pekerjaan yang berhubungan dengan media. Biasanya perusahaan media suka banget dengan anak muda yang semasa kuliah aktif, memahami keadaan sosial masyarakat dan sangat kreatif.

Laundry
Usaha laundry ini jika anda garap dengan serius, bisa menjadi suatu usaha yang menjanjikan. Jadi disini anda harus bisa memp[erhitungkan kebutuhan pelanggan. Dengan memberikan harga yang murah, pelayanan yang cepat dan bersih adalah kiat untuk mencari pelanggan. Kalau perlu lakukan survei ke beberapa tampat usaha cuci rumahan atau meminta brosur agar tahu harga pasarannya. Jika anda berniat untuk memperlua usaha, anda juga bisa mulai menerapkan sistem sewa, termasuk mencuci, mengeringkan, dan setrika. Tujuannya agar pelanggan merasa berada di rumah sendiri dan bisa mengontrol hasil cuciannya masing-masing. Disini anda bisa mematok harga sewa sebesar Rp.5000 per jam, luar detergen dan pengharum pakaian yang bisa mereka bawa.

Fotografi
Fotografer yang sekarang dilirik bukan hanya yang profesional saja lho. Banyak kok cewek-cewek yang mencari fotografel amatir untuk mengabdikan moment spesial atau kecantikan mereka. Ini karena harga yang diberikan oleh fotografer yang berstatus mahasiswa biasanya lebih murah. Tapi hobi fotografi ini harus bener-bener diasah lho, jangan hanya karena gaya doang. Untuk menambah kreativitas dalam dunia fotografi sering-seringlah ikut lomba atau mencoba teknik-teknik baru.

Usaha Digital Printing
Dengan semakin majunya perkembangan tekhnologi, sekarang ini untuk mencetak apa pun mulai dari yang di atas kaos, mug, payung, hingga ke bebagai media lain pun dapat dengan mudah di lakukan. Hal ini berkat adanya digital printing yang bisa di jadikan salah satu alternatif pilihan peluang usaha anda. Usaha berbasis sentuhan di gital ini selain memudahkan mencetak secara terbatas pada benda-benda kenangan juga tidak mengeluarkan biya yang cukup mahal.
Jika anda tertarik pada usaha ini sebaiknya mesti tahu apa saja yang mesti dipenuhi.

Jasa Penerjemah
Jika kebetulan dalam hal ini anda memiliki kemampuan berbahasa asing seperti Inggris, Prancis, Mandarin, Korea, Jepang, Portugis, Jerman, dan lain-lain, nmaka anda pun bisa menjadi penerjemah atau translator. Bahkan jenis usaha ini pun tidak memerlukan biaya operasional dan anda bisa menjalankannya denga sistem paruh waktu.

Bisnis Online
Bisnis Online adalah peluang usaha yang cocok untuk siapa saja, contohnya seperti mahasiswa yang harus membagi waktunya untuk kuliah, seorang pekerja kantoran yang sibuk, bahkan seorang ibu rumah tangga juga dapat menjalankan usaha online tersebut. Dikarenakan Bisnis Online ini adalah pekerjaan yang cukup sedserhana karena dapat dikerjakan di dalam rumah saja, syarat utamanya adalah memiliki sebuah komputer, laptop ataupun notebook yang terkoneksi ke Inernet.

Usaha Makanan dan Minuman
merupakan pilihan bagi banyak orang yang memiliki  modal pas pasan, walau begitu peluang usaha makanan dan minuman juga sangat  menjanjikan. Mengapa begitu, sebab keuntungan yang di dapat bisa berlipat ganda dari  modal yang di keluarkan untuk operational. Walau begitu ternyata memulai peluang usaha  makanan dan minuman tidak semudah yang di bayangkan, banyak sekali para calon  wirausaha yang tumbang hanya dalam hitungan bulan sejak pertama kali memulai usaha.
 Tantangan dalam peluang usaha makanan dan minuman memang cukup besar, dan tantangan  terbesar justru dari diri kita sendiri. Usaha kecil di bidang makanan memerlukan waktu dan  operasional yang totalitas, malah bisa jadi anda harus bangun tiap malam untuk menyiapkan  bahan makanan yang akan kita jual untuk esok hari. Tentu saja ini bukan untuk yang memiliki  mental lemah, sebelum memulai usaha makanan dan minuman kita harus memiliki cara berpikir  dan bisa yakin untuk siap mental terlebih dahulu .